Skip to main content

Bukan Sekadar Bertahan, Tapi Tetap Relevan

Industri properti selalu bergerak dalam siklus. Ada masa euforia, ada masa stagnasi, dan ada masa krisis. Penjualan melambat, konsumen menunda keputusan, bank memperketat kredit, dan biaya operasional terus berjalan.
Di fase inilah satu hal menjadi jelas: tidak semua developer layak bertahan.

Developer yang selamat bukan yang paling besar, tetapi yang paling adaptif, disiplin, dan realistis.

1. Berhenti Menyangkal Realitas Pasar

Langkah pertama bukan strategi pemasaran, tapi kejujuran.

Banyak developer gagal karena:

  • Terlalu percaya “pasar akan membaik sendiri”

  • Terjebak harga lama di kondisi baru

  • Memaksakan produk yang sudah tidak relevan

Developer yang bertahan mengakui satu hal lebih dulu:

Pasar sudah berubah, dan strategi lama tidak lagi cukup.

Tanpa pengakuan ini, semua langkah berikutnya hanya kosmetik.


2. Koreksi Produk, Bukan Sekadar Diskon

Kesalahan umum saat penjualan turun adalah bakar harga. Diskon besar, gimmick cashback, bonus berlebihan. Ini hanya solusi jangka pendek dan berbahaya.

Developer yang cerdas justru bertanya:

  • Apakah ukuran unit masih relevan?

  • Apakah segmentasi terlalu sempit?

  • Apakah value produk benar-benar terasa?

Langkah realistis:

  • Menyesuaikan luas unit dan harga masuk

  • Menawarkan produk bertahap (entry–mid)

  • Mengubah positioning dari “mewah” menjadi “bernilai”

Bukan menurunkan martabat produk, tapi meningkatkan rasionalitasnya.


3. Cash Flow Adalah Raja, Ego Adalah Musuh

Di masa sulit, cash flow lebih penting daripada citra.

Developer yang bertahan:

  • Menunda ekspansi ambisius

  • Mengurangi proyek non-prioritas

  • Fokus menyelesaikan unit yang sudah terjual

Mereka memahami:

Proyek yang megah tapi mangkrak membunuh reputasi lebih cepat daripada proyek sederhana yang selesai tepat waktu.

Mengamankan arus kas berarti:

  • Restrukturisasi pembayaran internal

  • Negosiasi ulang dengan kontraktor

  • Skema pembayaran konsumen yang lebih fleksibel tapi terkontrol


4. Pemasaran Harus Lebih Tajam, Bukan Lebih Berisik

Di kondisi sulit, uang iklan harus bekerja dua kali lebih keras.

Baca Juga:  Kekuatan AI Dalam Dunia Desain Grafis

Developer yang bertahan:

  • Berhenti berharap pada iklan massal

  • Fokus pada lead berkualitas

  • Menggunakan data, bukan asumsi

Pendekatan yang relevan:

  • Digital marketing berbasis intent (search, remarketing)

  • Konten edukatif yang membangun kepercayaan

  • Sales yang dilatih untuk konsultatif, bukan sekadar closing

Penjualan properti di masa sulit bukan soal “siapa paling keras”, tapi siapa paling dipercaya.


5. Bangun Kepercayaan, Bukan Janji

Konsumen di masa sulit lebih skeptis, lebih rasional, dan lebih berhati-hati.

Developer yang bertahan:

  • Transparan soal progres

  • Konsisten dalam komunikasi

  • Tidak menjual mimpi berlebihan

Mereka sadar:

Trust adalah mata uang utama saat uang tunai sulit bergerak.

Sekali reputasi rusak, tidak ada strategi pemasaran yang cukup mahal untuk memperbaikinya.


6. Diversifikasi Pendapatan, Sekecil Apa Pun

Developer yang hanya bergantung pada penjualan unit akan sangat rentan.

Alternatif yang sering diabaikan:

  • Penyewaan unit sementara

  • Kerja sama operasional (co-living, hospitality, retail)

  • Monetisasi aset idle

Tujuannya sederhana:
menjaga mesin tetap menyala, walau tidak berlari kencang.


7. Bertahan Bukan Tentang Cepat, Tapi Tahan Lama

Developer yang bertahan memahami satu prinsip utama:

Properti bukan bisnis sprint, tapi maraton panjang.

Mereka tidak bereaksi panik, tidak gegabah, dan tidak terjebak euforia sesaat. Mereka:

  • Disiplin dalam biaya

  • Konsisten dalam kualitas

  • Sabar dalam pertumbuhan


Penutup: Yang Bertahan Akan Mewarisi Pasar

Sejarah industri selalu sama. Saat penjualan sulit:

  • Developer spekulatif tumbang

  • Developer oportunis menghilang

  • Developer disiplin tetap berdiri

Dan ketika pasar kembali pulih, merekalah yang memanen hasilnya — dengan lahan, reputasi, dan kepercayaan yang sudah dibangun di masa sulit.

Karena dalam properti, yang bertahan paling lama bukan yang paling berisik, tapi yang paling siap.